Samudrainfo.com, BOYOLALI – Musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mengimbau masyarakat untuk mulai menabung air hujan selama masa pancaroba.
Kepala BPBD Boyolali, Suratno, mengatakan kondisi cuaca ekstrem berupa pagi panas dan sore hujan menandai masa peralihan musim dari penghujan ke kemarau.
“Di beberapa wilayah saat ini mengalami musim pancaroba dari hujan ke kemarau. Selain mewaspadai dampak cuaca ekstrem, masyarakat diharapkan bisa menabung air,” kata dia kepada Espos, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, upaya menabung air sebaiknya dilakukan terutama di wilayah yang setiap tahun dilanda kekeringan, seperti Boyolali bagian utara. Wilayah tersebut memiliki struktur tanah yang berbeda dibandingkan daerah tengah dan selatan, sehingga lebih rentan mengalami kekurangan air.
“Selain untuk menekan biaya, menabung air juga adalah budaya gotong royong yang terus dilestarikan,” kata dia.
Suratno berharap pemerintah desa hingga kecamatan dapat menggerakkan masyarakat untuk mencegah potensi bencana saat musim kemarau, mulai dari kebakaran hutan hingga kekeringan. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Tamansari, Cepogo, Gladagsari, Ampel, serta kawasan Boyolali utara seperti Juwangi, Wonosegoro, dan Kemusu.
“Walaupun begitu, semua wilayah harus siap menghadapi bencana hidrometeorologi terutama kekurangan air bersih di wilayah yang saya sebutkan sebelumnya,” kata dia.
Waspadai Kebakaran dan Krisis Air Bersih
Ia juga mengingatkan para petani agar menyesuaikan pola tanam serta memilih jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air guna menjaga ketahanan pangan di Boyolali.
Suratno mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari individu, relawan, hingga sektor swasta, untuk berkontribusi bersama pemerintah daerah dalam mengurangi dampak musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, jangan membuang puntung rokok atau aktivitas yang dapat menimbulkan bencana kebakaran hutan atau lahan,” kata dia.
Ia menekankan pentingnya kehati-hatian saat membakar sampah di lahan terbuka dengan memastikan api benar-benar padam untuk mencegah kebakaran yang dapat merugikan masyarakat dari sisi kesehatan, material, maupun ekonomi.
Suratno juga mengidentifikasi wilayah Gunung Merbabu memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Kebakaran hutan dan lahan pada 2023 juga merusak jaringan pipa air. Sehingga, menyebabkan krisis air bersih terdampak di dua desa dan 17 dukuh,” kata dia.
Selain merusak fasilitas masyarakat, kebakaran juga berdampak pada kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, ia menegaskan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan.
“Koordinasi lintas sektoral antara TNI, Polri, relawan, dan pemangku kawasan hutan terus diperkuat untuk menjamin respons cepat jika ditemukan titik api,” kata dia.

Leave a Reply