KB Pria di Jateng Masih Rendah, Vasektomi Hanya 0,13 Persen

KB Pria di Jateng Masih Rendah, Vasektomi Hanya 0,13 Persen
Ilustrasi vasektomi. (Image by Freepik)

Samudrainfo.com, SEMARANG — Dari total 5,9 juta pasangan usia subur (PUS) di Jawa Tengah (Jateng), hanya 0,13 persen yang menjalani vasektomi atau kontrasepsi untuk laki-laki pada 2025. Capaian tertinggi berada di Kabupaten Banjarnegara sebesar 0,7 persen dan Kota Surakarta atau Solo 0,6 persen.

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jateng, metode kontrasepsi paling banyak digunakan yakni KB hormonal berupa suntik 37,1 persen dan implan 11,1 persen. Sedangkan KB nonhormonal seperti IUD atau spiral 7,4 persen, kondom 3,15 persen, dan vasektomi 0,13 persen.

Kepala BKKBN Jateng, Rusman Effendi, mengatakan capaian KB kontrasepsi modern di 35 kabupaten/kota mencapai 66,7 persen pada 2025. Angka ini lebih tinggi dibanding capaian nasional yang sebesar 60,8 persen. Data tersebut tercatat dalam pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) 2025.

“Secara umum di Jawa Tengah ini KB-nya bagus, termasuk yang pria juga. Jadi pria itu ada dua, ada yang vasektomi dan ada yang memakai kondom walaupun memang tidak besar angkanya, tidak sampai 5%,” kata Rusman usai Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Gradhika Semarang, Selasa (14/4/2026).

Partisipasi Laki-laki Masih Jadi Tantangan KB di Jateng

Menurut Rusman, enam dari 10 PUS di Jateng telah menggunakan kontrasepsi modern. Jenisnya antara lain metode operasi wanita (MOW) atau tubektomi, metode operasi pria (MOP) atau vasektomi, IUD/spiral/AKDR, implan, suntik, pil, kondom, metode amenore laktasi (MAL), dan KB tradisional.

Khusus vasektomi, tidak satu pun kabupaten/kota di Jateng yang mencapai 1 persen. Capaian tertinggi tetap berada di Banjarnegara 0,7 persen dan Kota Solo 0,6 persen.

Masih rendahnya partisipasi KB laki-laki membuat Rusman berharap peran pria dalam program keluarga berencana dapat meningkat, sehingga beban reproduksi perempuan bisa lebih berkurang.

“Kita menggerakkan tadi peran ayah, termasuk juga tadi manakala ibunya punya hambatan untuk melaksanakan program KB tentunya peran bapaknya ini sangat diharapkan sekali,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng, Emma Rachmawati, menilai rendahnya edukasi reproduksi dan kesadaran gender menjadi faktor utama minimnya partisipasi KB laki-laki.

Ia menambahkan, layanan vasektomi sebenarnya sudah tersedia, namun masih ada stigma negatif di masyarakat.

“Orang menganggap bahwa KB itu urusannya perempuan. Karena memang alat kontrasepsi paling banyak kan untuk perempuan ya. Jadi yang hamil kan perempuan, yang dicegah perempuan aja, konsep itu masih melekat gitu ya. Ini tantangan sosial budaya sebenarnya, bukan tantangan terkait layanan yang tidak ada. Sangat sulit membongkar keyakinan itu, ini tantangan terbesarnya,” nilai Emma.

Leave a Reply