Samudrainfo.com, TEHERAN – Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mencapai kerangka kesepakatan awal yang mencakup pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz secara bertahap dalam 30 hari ke depan pada Minggu (24/5/2026).
Laporan tersebut pertama kali diungkap media AS dengan mengutip sumber diplomatik dan pejabat yang identitasnya tidak dipublikasikan. Dalam skema awal, jumlah kapal yang diizinkan melintas disebut akan dipulihkan ke tingkat sebelum konflik, meski Selat Hormuz tidak sepenuhnya kembali ke kondisi normal seperti sebelum perang.
Kerangka kesepakatan itu juga disebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari guna membuka ruang menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Di sisi lain, pembahasan terkait program nuklir Iran dilaporkan ditunda untuk dibicarakan dalam tahap perundingan berikutnya.
Meski demikian, laporan yang beredar menyebut kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan resmi dari pihak Iran.
Perkembangan ini muncul setelah meningkatnya ketegangan di kawasan sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap target di Iran pada akhir Februari lalu yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Situasi tersebut sempat memicu gangguan pelayaran dan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dan gas alam cair dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Gangguan distribusi energi itu ikut memicu kenaikan harga bahan bakar dan tekanan terhadap rantai pasok internasional.
Sementara itu, pejabat Oman dan Iran juga diketahui menggelar pembicaraan di Muscat terkait prinsip kebebasan navigasi di Selat Hormuz sesuai hukum internasional.
Pertemuan tersebut melibatkan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi.
Dalam pembahasan itu, kedua pihak bertukar pandangan mengenai penguatan keamanan pelayaran, perdagangan, dan keberlanjutan rantai pasok.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran “sebagian besar telah dinegosiasikan” dan kini tinggal menunggu finalisasi.
Sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan apabila diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan, menurutnya tanggung jawab sepenuhnya berada di pihak Iran.
Hingga kini belum ada pengumuman resmi bersama dari Washington maupun Teheran mengenai pengesahan akhir kerangka kesepakatan tersebut.

Leave a Reply