Samudrainfo.com, JAKARTA—Abu vulkanis yang menempel di permukaan kulit tidak boleh dianggap sepele. Partikel halus dari material erupsi gunung api dapat menyebabkan kulit kering, gatal, perih, hingga kemerahan.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE, menjelaskan paparan abu vulkanis pada kebanyakan orang memang tidak selalu menimbulkan gangguan kulit yang berat. Namun, masyarakat tetap perlu berhati-hati, terutama ketika konsentrasi abu di udara cukup tinggi.
“Pada kebanyakan orang, kontak singkat dengan abu tidak menyebabkan masalah kulit yang berat,” kata Arini dikutip dari Antara, Senin (7/9/2026).
Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) tersebut, risiko iritasi lebih besar dialami orang dengan kondisi kulit tertentu.
Mereka yang memiliki kulit sensitif, dermatitis atopik atau eksim, rosacea, maupun gangguan skin barrier perlu lebih berhati-hati. Kondisi serupa juga dapat dialami seseorang yang baru menjalani tindakan perawatan kulit seperti laser atau peeling.
Partikel abu vulkanis juga dapat bersifat abrasif sehingga bisa memperparah iritasi apabila bergesekan dengan permukaan kulit.
“Partikel abu juga dapat bersifat abrasif. Karena itu, yang perlu dihindari adalah menggosok atau mengusap abu yang masih kering di permukaan kulit karena gesekan tersebut justru dapat meningkatkan iritasi,” ujar dokter lulusan Universitas Harvard itu.
Cara Membersihkan Abu Vulkanis dari Kulit
Arini menyarankan masyarakat segera membersihkan kulit setelah terpapar abu vulkanis. Namun, abu yang masih menempel dalam keadaan kering sebaiknya tidak langsung digosok.
Jika memungkinkan, pakaian yang banyak terkena abu terlebih dahulu dilepaskan. Selanjutnya, kulit dibilas menggunakan air bersih yang mengalir agar partikel abu dapat terangkat tanpa menimbulkan banyak gesekan.
Masyarakat juga disarankan mandi menggunakan air sejuk atau suam-suam kuku dengan pembersih yang lembut. Penggunaan scrub, spons kasar, maupun menggosok kulit terlalu kuat sebaiknya dihindari.
Setelah mandi, kulit cukup dikeringkan dengan cara ditepuk perlahan menggunakan handuk. Selanjutnya, gunakan pelembap untuk membantu menjaga kelembapan dan melindungi lapisan kulit.
Apabila wajah mengalami iritasi, penggunaan bahan aktif perawatan kulit untuk sementara dapat dikurangi. Bahan seperti retinoid, AHA/BHA, peeling, maupun scrub berpotensi membuat kulit semakin sensitif hingga kondisi iritasi mereda.
Arini mengatakan langkah pencegahan utama sebenarnya lebih mengutamakan perlindungan fisik dibandingkan penggunaan obat.
Masyarakat dapat menggunakan pelembap sederhana tanpa pewangi yang mendukung skin barrier. Pelembap dengan kandungan ceramide, glycerin, maupun bahan humektan dan emolien lainnya dapat menjadi pilihan.
“Pelembap sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang bersih dan diberi waktu agar menyerap. Tidak perlu menggunakan antibiotik atau kortikosteroid sebagai pencegahan. Jika kemudian timbul dermatitis yang cukup berat, obat antiinflamasi topikal mungkin diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dokter,” katanya.
Lebih lanjut, Arini mengingatkan abu vulkanis berbeda dengan debu sehari-hari. Material tersebut terdiri atas partikel batuan dan mineral yang sangat halus. Sebagian partikel memiliki permukaan abrasif, sementara abu yang masih segar dapat membawa komponen yang bersifat asam.
Karena itu, paparan abu vulkanis akibat aktivitas gunung api, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, perlu diwaspadai.
“Karena itu prinsip terpenting adalah mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama ketika konsentrasi abu di udara sedang tinggi. Dampak terhadap saluran napas dan mata umumnya menjadi perhatian utama, tetapi kulit juga dapat mengalami iritasi,” tambahnya.

Leave a Reply