Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pembuatan Komposter Galon Bekas oleh KKN 228 UNS

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pembuatan Komposter Galon Bekas oleh KKN 228 UNS
Penyuluhan Tim KKN 228 UNS

Semarang- Kelompok KKN UNS 228. Persoalan sampah organik rumah tangga seperti kulit buah, ampas tahu, hingga sisa dapur kerap menjadi tantangan tersendiri bagi lingkungan pedesaan, terutama ketika fasilitas pengolahan sampah belum sepenuhnya memadai. Berangkat dari kondisi tersebut, Kelompok 228 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengambil langkah nyata untuk merubah tantangan menjadi peluang yang bernilai guna di Desa Rogomulyo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Melalui program pemberdayaan masyarakat, Tim KKN 228 UNS menggelar pelatihan pembuatan pupuk kompos dan pupuk organik cair (POC) bertempat di Dusun Gegunung, Desa Rogomulyo, pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai solusi aplikatif agar warga dapat mengelola limbah dapur secara mandiri langsung dari sumbernya.

Penanggung jawab kegiatan yang juga mahasiswa Program Studi Kimia UNS, Bintang Putra Ardian, menjelaskan bahwa pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk merupakan langkah alternatif yang sangat potensial. Metode ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga praktis untuk diterapkan oleh perorangan maupun kelompok tani.

Sebagai bentuk edukasi visual, Bintang memperagakan pembuatan komposter menggunakan wadah yang sangat mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari, yaitu galon plastik bekas. Inovasi sederhana ini mengombinasikan dua buah galon bekas yang dipotong dan direkatkan bagian atas serta bawahnya menggunakan lakban tebal.

“Galon bagian atas berfungsi sebagai wadah utama tempat sampah organik diolah. Sementara itu, galon bagian bawah difungsikan khusus untuk menampung cairan hasil dekomposisi atau air lindi yang nantinya dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair,” terang Bintang saat ditemui di lokasi kegiatan.

Proses pengolahannya pun terbilang terjangkau dan mudah dipraktikkan. Sampah dapur yang telah dikumpulkan dimasukkan ke dalam wadah galon, lalu disemprot secara merata menggunakan larutan aktivator yang terdiri dari campuran air, molase (tetes tebu), dan EM4.

“EM4 mengandung mikroorganisme pengurai, sedangkan molase berperan sebagai nutrisi untuk membimbing perkembangbiakan mikroorganisme tersebut, dan air menjadi media pelembap. Kombinasi ini mempercepat proses dekomposisi. Setelah itu, bagian atas wadah ditutup rapat agar tidak dihinggapi lalat, lalu didiamkan selama kurang lebih 21 hari hingga matang,” jelasnya.

Setelah melewati masa fermentasi selama tiga pekan, sampah organik di dalam galon akan mengalami penyusutan bobot sebagai penanda berhasilnya proses dekomposisi. Sampah tersebut bertransformasi menjadi kompos padat dengan karakteristik warna, aroma, serta tekstur remah menyerupai tanah humus yang siap diaplikasikan langsung ke tanaman.

Tak hanya pupuk padat, cairan lindi yang tertampung di galon bawah juga memberikan manfaat ganda. Dengan mengencerkan satu bagian cairan lindi bersama 10 bagian air bersih, warga sudah mendapatkan pupuk organik cair (POC) berkualitas tinggi untuk menyuburkan tanah dan memperkuat perakaran tanaman.

Pelatihan ini mendapat sambutan hangat dari warga setempat. Tak kurang dari 41 warga Desa Rogomulyo dari berbagai elemen, mulai dari pemuda, orang tua, pekerja, hingga para petani hadir dan menyimak peragaan dengan antusias.

Penyuluhan Tim KKN 228 UNS
Penyuluhan Tim KKN 228 UNS

Bintang mengungkapkan bahwa keterlibatan lintas generasi ini sengaja dibentuk karena persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama. “Kami memang tidak membatasi kalangan yang hadir. Target utama kami adalah pemilahan sampah skala rumah tangga karena setiap orang pasti menghasilkan sampah harian. Harapannya, inovasi kecil ini bisa menekan volume sampah organik yang terbuang sekaligus memberi kemandirian pupuk untuk pekarangan warga. Ke depan, metode ini juga sangat memungkinkan untuk diproduksi dalam skala masal bagi kebutuhan pertanian yang lebih luas,” pungkas Bintang.

Melalui aksi nyata KKN 228 UNS ini, warga Dusun Gegunung kini tidak lagi melihat sisa dapur sebagai masalah lingkungan, melainkan sebagai sumber daya hayati yang bernilai ekonomi dan menyuburkan bumi Desa Rogomulyo.

Tags:

Leave a Reply