Karhutla Gunung Lawu Meluas Capai 490 Hektare, Pemadaman Terkendala Cuaca

Karhutla Gunung Lawu Meluas Capai 490 Hektare, Pemadaman Terkendala Cuaca
Kobaran api membakar hutan dan lahan (Karhutla) Gunung Lawu dari Gondosuli, Karanganyar, Senin (19/10/2026). Pemerintah Kabupaten Karanganyar menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran di Gunung Lawu, sementara berdasarkan data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karhutla Gunung Lawu yang terbakar mencapai 130 hektare sementara itu upaya pemadaman masih terus dilakukan salah satunya dengan water bombing. (Daerah/J Howi Widodo).

Samudrainfo.com, KARANGANYAR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu, wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, memasuki hari keenam pada Selasa (20/10/2026). Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 490 hektare, meningkat dari sebelumnya sekitar 100 hektare.

Tim gabungan masih berupaya memadamkan api melalui operasi water bombing dan penyekatan manual. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan wisata, hutan alam, serta jaringan pipa air bersih milik warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan operasi water bombing pada Selasa dilakukan dua kali dengan melibatkan tim dari Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud).

“Dari pagi pukul 07.30 WIB telah dilakukan water bombing, kemudian yang kedua pukul 08.30 WIB. Rencananya empat kali, tetapi hanya terlaksana dua kali karena terkendala cuaca yang mendung dan kabut,” kata Sugiharjo, Selasa malam.

Selain cuaca mendung dan kabut, angin kencang juga menghambat pemadaman dari udara. Sementara itu, tim gabungan yang terdiri atas unsur TNI, Polri, dan relawan melakukan penyekatan api secara manual di sejumlah titik untuk membatasi pergerakan kebakaran.

Namun, besarnya kobaran api membuat petugas di beberapa lokasi menghentikan penyekatan dan kembali ke posko demi keselamatan personel.

Di Posko Induk Gondosuli, sebanyak 43 personel gabungan dari Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP), Brimob, Polres Karanganyar, dan relawan dikerahkan untuk melakukan penyekatan. Tim akhirnya kembali ke posko karena api semakin membesar.

Sementara itu, 46 personel di Posko Aju Cemoro Kandang melakukan penyekatan di sekitar Pos II jalur pendakian. Api dilaporkan bergerak dari Pos III menuju Pos II sehingga petugas harus mempertimbangkan kondisi lapangan sebelum melanjutkan upaya pemadaman.

Tim di Posko Aju Tambak melakukan pemantauan dan menentukan titik koordinat kebakaran hingga Pos IV sebelum kembali ke posko.

Empat Posko Disiapkan untuk Penyekatan Api

Sugiharjo mengatakan BPBD Karanganyar bersama tim gabungan akan melanjutkan penyekatan manual pada Rabu (21/10/2026). Upaya tersebut difokuskan untuk melindungi kawasan hutan alam, objek wisata, dan jaringan pipa air bersih milik warga.

Di Posko Induk Gondosuli, petugas akan membuat sekat api di sekitar kawasan hutan alam sekaligus mengamankan objek wisata dan jaringan pipa air warga. Di Posko Cemoro Kandang, penyekatan direncanakan dilakukan di bawah Pos I.

Adapun tim di Posko Tambak akan membuat ilaran atau jalur pemisah untuk menghambat pergerakan api, dimulai dari bagian bawah kawasan terdampak.

BPBD juga menambah satu posko di kawasan Cetho sehingga total terdapat empat posko penanganan karhutla. Posko tambahan tersebut disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan api meluas ke kawasan Cetho sekaligus melindungi jaringan pipa air bersih warga.

“Besok kami upayakan penyekatan secara manual di empat titik yang sudah direncanakan. Kami juga mengutamakan pengamanan pipa air warga agar tidak terdampak apabila api meluas,” ujar Sugiharjo.

Selain penyekatan manual, operasi water bombing oleh tim Lanud direncanakan kembali dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan.

BPBD Karanganyar juga mengajukan bantuan kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan modifikasi cuaca guna memperkuat penanganan kebakaran.

Sugiharjo menjelaskan surat administrasi pengajuan modifikasi cuaca telah disiapkan dan disampaikan kepada BMKG. Pelaksanaannya masih menunggu hasil asesmen, terutama terkait kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan yang memungkinkan operasi tersebut dilakukan.

“Kami sudah melaporkan kepada Bupati dan mengajukan bantuan kepada BMKG untuk melakukan modifikasi cuaca. Pelaksanaannya bergantung pada hasil asesmen BMKG, apakah memungkinkan dari sisi kondisi cuaca dan ketersediaan bibit awan,” jelasnya.

Sugiharjo menambahkan, hingga Selasa, permukiman warga masih terpantau aman dari ancaman langsung api. Meski demikian, pemantauan dan penyekatan tetap diperkuat untuk mengantisipasi perubahan arah pergerakan kebakaran.

Sementara itu, jalur pendakian Gunung Lawu melalui Cemoro Kandang tetap ditutup hingga batas yang ditetapkan petugas. Penutupan dilakukan karena kebakaran masih berlangsung.

BPBD mengimbau seluruh personel di lapangan untuk mengutamakan keselamatan dalam setiap upaya pemadaman. Penanganan karhutla akan terus dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, pemantauan kondisi lapangan, penyekatan api, dan dukungan pemadama

Leave a Reply