Samudrainfo.com, BOYOLALI — Seorang anak diduga membunuh ayah kandungnya di Dusun/Desa Garangan, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, Sabtu (31/10/2026). Korban diduga dipukul menggunakan batu hingga meninggal dunia.
Kasat Reskrim Polres Boyolali AKP Joni Aryanto mengatakan korban bernama Subar, 76, warga setempat. Terduga pelaku merupakan anak kandung korban berinisial JS, 35.
“Diduga pelaku memukul kepala korban menggunakan benda tumpul yaitu batu,” kata Joni kepada wartawan, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan peristiwa tersebut diketahui sekitar pukul 05.20 WIB. Saat itu, tetangga korban bernama Miftahudin mendengar suara gaduh dari rumah Subar.
“Tetangga mendengar suara gaduh Subar meminta tolong ‘Tulung-tulung Ya Allah’. Kemudian Miftahudin mengintip dari sela-sela dinding rumah dan melihat korban Subar sudah terlentang dan tersangka, yaitu anak korban, memukul kaki korban untuk menentukan apakah korban telah meninggal atau belum,” kata dia.
Setelah itu, saksi memanggil tetangga dan melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT. Saksi kemudian kembali mengintip melalui jendela rumah.
“Di sana saksi melihat korban diseret ke belakang rumah oleh pelaku dan tidak lama kemudian warga berdatangan ke lokasi. Pelaku lari ke arah pekarangan dan dikejar lalu diamankan warga,” kata Joni.
Jenazah korban kemudian ditutupi kain jarik oleh ketua RT setempat. Kejadian tersebut selanjutnya dilaporkan ke Polsek Wonosegoro.
Joni mengatakan terduga pelaku mengalami gangguan jiwa atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Adapun barang bukti yang disita polisi berupa batu dengan bekas darah, cangkul, dan karung bagor berwarna putih.
Sementara itu, tetangga korban, Ngateni, 38, mengatakan sekitar pukul 05.30 WIB mendengar teriakan Subar yang meminta pertolongan. Ia mengaku tidak berani keluar rumah karena terduga pelaku, Joko Slamet, kerap mengamuk sambil membawa kayu atau batu.
“Saya dengar suara Mbah Subar tolong tolong, mboe tolong aku mati, aku mati. Tapi saya enggak berani, terus bilang buk buk lalu diam. Itu kejadian sekitar pukul 05.30 WIB,” kata Ngateni kepada wartawan.
Ngateni mengatakan tidak melihat langsung kejadian tersebut dan hanya mendengar teriakan korban. Warga kemudian berusaha mencari istri korban, Surip, yang saat itu sedang mencari daun singkong di desa sebelah.
Korban ditemukan dalam keadaan terlentang dengan kepala menghadap ke selatan dan sudah tidak bernapas.
“Luka-luka di kepala, banyak darah. Cuma saya enggak berani lihat dari dekat, dari jauh, darahnya banyak,” kata dia.
Ngateni menjelaskan korban tinggal bersama istri dan terduga pelaku. Saat kejadian, Subar hanya berada di rumah bersama anaknya, sedangkan Surip sedang mencari sayuran.
“Anaknya ada enam, pelaku kalau enggak salah ke-2. Joko sekitar 40 tahun, itu sakitnya setelah menikah 20 tahun yang lalu. Anak-anak yang lain tidak di sini,” kata dia.
Menurut Ngateni, Joko sebenarnya sudah pernah dibawa berobat, bahkan hingga ke rumah sakit di wilayah Solo. Namun, setelah menjalani pengobatan, Joko masih kerap mengamuk.
Ia mengatakan Joko sering mengamuk sambil membawa batu dan kayu yang tidak pernah dilepaskannya.
“Itu buat mukul orang terus. Kalau ngamuk ngepruk itu melukai bapaknya atau kakaknya. Kakaknya juga sering dipukul kepalanya terus berdarah. Kalau orang lain belum pernah, cuma merusak dinding, lantai saya juga dirusak,” kata dia.
Ngateni menjelaskan setelah kejadian tersebut, Joko masih berada di rumah. Namun, ketika polisi datang, terduga pelaku melarikan diri ke kali atau sungai yang berada di dekat rumahnya.
“Larinya sampai ke RT 3, jauh larinya. Untuk bapaknya dibawa ke rumah sakit di Solo untuk autopsi,” kata dia.

Leave a Reply