Telur Asin hingga Gasing, Ini Makna Filosofis Makanan & Mainan Khas Sekaten Solo

Telur Asin hingga Gasing, Ini Makna Filosofis Makanan & Mainan Khas Sekaten Solo
Wisatawan membeli telur asin di kawasan Masjid Agung Solo, Selasa (25/8/2026). (Daerah/Wahyu Prakoso)

Samudrainfo.com, SOLO – Puncak hari rangkaian acara Sekaten untuk memperingati hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW berupa kirab gunungan di kawasan Keraton Solo akan digelar pada Rabu (26/8/2026). Acara ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang berdatangan ke kompleks Keraton.

Mereka bahkan ada datang hendak menyaksikan acara itu pada Selasa (25/8/2026) karena mengira acara itu digelar bertepatan dengan hari libur nasional Maulid Nabi SAW itu. Namun mereka kecele karena acara itu ternyata baru digelar esok harinya. 

Akhirnya mereka mencari objek lain seperti menyaksikan dua perangkat gamelan pusaka sakral milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang hanya dikeluarkan dan ditabuh setahun sekali untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dalam tradisi Sekaten.

Selain itu, para wisatawan itu juga mengunjungi lapak-lapak pedagang di Sekaten dan membeli sejumlah makanan khas hingga mainan yang biasanya hanya ada di Sekaten. Ada beberapa pedagang yang menjual makanan khas serta mainan, yang bukan sekadar suvenir tapi juga memiliki makna tersendiri.

Pengurus Masjid Agung Solo melalui papan pengumuman membagikan informasi mengenai makna filosofis dari makanan dan mainan khas yang ada di acara Sekaten. Dijelaskan bhawa Sekaten tak sekadar tradisi tetapi warisan dakwah dan keteladanan penuh makna.

Berikut daftar makanan/mainan khas Sekaten dan maknanya:

1.Kinang

Kinang terdiri atas daun sirih, gambir, injet, tembakau, dan bunga kantil. Kinang melambangkan rukun Islam. Daun sirih juga melambangkan kehidupan yang memiliki berbagai rasa, seperti manis, asin, masam, pedas, pahit, dan sepet. Filosofi ini mengajarkan bahwa kehidupan memiliki berbagai pengalaman yang harus diterima dengan bijaksana.

2. Bunga Kantil

Bunga kantil melambangkan keharuman budi pekerti, kesucian hati, dan cita-cita yang luhur. Dalam pemaknaan Islam Jawa, kantil juga dikaitkan dengan penyempurnaan rukun Islam melalui ibadah haji sehingga seseorang memperoleh kemuliaan dan kehormatan di sisi Allah SWT.

3. Gasing

Gasing melambangkan perjalanan hidup manusia yang terus berputar dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga tua. Simbol ini mengingatkan manusia agar selalu waspada terhadap ujian kehidupan dan senantiasa mengingat Allah SWT.

4. Janur

Berasal dari istilah Arab ja’a yang berarti “telah datang” dan nuur yang berarti “cahaya”. Janur melambangkan datangnya cahaya petunjuk Allah SWT dalam kehidupan manusia. Janur dipasang sebagai hiasan saat gamelan pertama kali ditabuh.

5. Pecut

Pecut melambangkan pengendalian hawa nafsu. Manusia harus mampu mengendalikan sifat amarah, keserakahan, dan berbagai kecenderungan buruk agar hidup tetap berada pada jalan yang benar.

6. Telur Asin

Telur asin melambangkan amal dan kesempurnaan hidup. Kuning telur melambangkan laki-laki, putih telur melambangkan perempuan. Keduanya bersatu menjadi kehidupan baru.

Dalam filosofi Jawa-Islam, manusia yang menjalankan rukun Islam, mengendalikan hawa nafsu, dan memperbanyak amal saleh akan mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT.

7. Celengan

Celengan melambangkan pentingnya menabung amal kebaikan selama hidup di dunia sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Leave a Reply